BII Catat Kenaikan Laba Bersih 45% pada 2011
Jakarta, 22 Februari 2012
PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) hari ini mengumumkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp669 miliar pada periode yang berakhir 31 Desember 2011, naik 45% dibanding Rp461 miliar pada periode sebelumnya yang berakhir 31 Desember 2010. Laba sebelum pajak BII mencapai Rp985 miliar, naik 25% dibanding periode sebelumnya. Kinerja yang membaik terutama didorong oleh pertumbuhan yang solid pada bisnis inti BII, perbaikan kualitas aset, dan perbaikan di seluruh operasionalnya.
Rahardja Alimhamzah, Pjs Presiden Direktur BII mengatakan, “Kinerja yang membaik memperlihatkan bahwa kerja keras kami dalam meraih kembali momentum pertumbuhan telahmenghasilkan kenaikan laba. Saya yakin bahwa rencana pertumbuhan berkelanjutan di seluruh segmen bisnis lebih jauh akan meningkatkan kinerja kami sejalan dengan meningkatnya pangsa pasar dengan tetap memastikan kualitas aset yang baik.
BII terus membukukan pertumbuhan kredit yang kuat sepanjang 2011. BII mencatat pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 25% dari Rp53,6 triliun pada Desember 2010 menjadi Rp67,2 triliun pada Desember 2011. Kredit Korporasi memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar, yakni 42% dari Rp12,2 triliun pada Desember 2010 menjadi Rp17,3 triliun pada Desember 2011, diikuti oleh UKM & Komersial sebesar 27% dan Konsumer sebesar 15% dibanding periode yang sama 2010. Kredit Konsumer memberikan kontribusi 38% dari total kredit, sedangkan UKM & Komersial sebesar 36% dan Korporasi 26%.
Total aset BII per 31 Desember 2011 meningkat 26% menjadi Rp94,9 triliun dari Rp75,2 triliun per 31 Desember 2010.
Total simpanan nasabah meningkat 17% dari Rp70,3 triliun per 31 Desember 2011, naik dari Rp59,9 triliun pada 31 Desember 2010. Tabungan dan giro mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibanding deposito. Tabungan tumbuh 28% menjadi Rp17,6 triliun per 31 Desember 2011 dari Rp13,8 triliun per 31 Desember 2010, diikuti giro yang tumbuh 21% menjadi Rp12,4 triliun dari Rp10,3 triliun pada tahun sebelumnya. Deposito meningkat 13% menjadi Rp40,3 triliun dari Rp35,8 triliun. Ini telah meningkatkan rasio Current Account and Saving Account (CASA) dari 40% per 31 Desember 2010 menjadi 43% per 31 Desember 2011.
“Disamping terus melaksanakan program yang inovatif untuk terus memperbaiki komposisi pendanaan, BII juga terus melakukan ekspansi jaringan kantor dan perbankan elektronik sepanjang tahun untuk memperluas jangkauan pasar. Pada 2011, BII membuka 21 cabang baru, meluncurkan mobile banking, meluncurkan kembali internet banking dengan platform terkini. BII juga telah mengembangkan infrastruktur kas keliling untuk memperkenalkan konsep cabang tanpa batas. Cabang yang dapat berpindah-pindah ini dilengkapi dengan customer service dan ATM yang dapat memberikan layanan kepada banyak komunitas kecil di lokasi yang tidak terdapat cabang BII. Ekspansi jaringan BII, program yang inovatif, dengan dipadukan oleh layanan prima telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan simpanan nasabah lebih lanjut.”
“Penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Bank BII Tahap 1 Tahun 2011 juga telah meningkatkan pendanaan jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan bisnis kami yang terus meningkat. Obligasi diterbitkan pada Desember 2011 dan meraih peringkat AAA (idn) dari Fitch Ratings Indonesia dan (id)AA dari Pemeringkat Efek Indonesia. Penerbitan obligasi telah memperbaiki maturity mismatch karena menyediakan profil pendanaan jangka panjang. Ini juga memberikan kami waktu yang cukup untuk lebih lanjut meningkatkan profil simpanan nasabah,” tambah Rahardja.
Loan to deposit ratio (LDR) konsolidasi tetap berada pada tingkat yang diharapkan, yakni sebesar 95,1% per 31 Desember 2011. LDR untuk bank saja (tanpa anak perusahaan) tetap terkelola dengan baik pada tingkat 88,9%. LDR konsolidasi BII dengan memperhitungkan obligasi, pinjaman jangka panjang dan simpanan nasabah, berada pada tingkat 81,2% per 31 Desember 2011.
Pertumbuhan BII pada semua segmen bisnis disertai dengan kualitas aset yang membaik. Non performing loan (NPL) bruto turun signifikan di bawah 3%; bekurang menjadi 2,14% per Desember 2011 dari 3,09% per Desember 2010 dan NPL netto membaik menjadi 1,10% dari 1,74%. Perbaikan pada kualitas aset tercapai terutama dari prinsip kehati-hatian bank dan praktek perbankan yang disiplin seperti tercermin dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat manajemen risiko dan pemrosesan kredit serta melakukan pemantauan yang ketat terhadap debitur yang ada.
Penyisihan kerugian per 31 Desember 2011 lebih rendah 4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp1.187 miliar pada Desember 2011 dari Rp1.238 miliar pada Desember 2010 meskipun pertumbuhan kredit 25%.
Marjin bunga bersih BII turun menjadi 5,22% per Desember 2011 dari 5,86% pada periode sebelumnya, seperti terjadi di seluruh industry perbankan. Pricing strategy BII tetap sejalan dengan keseluruhan rencana Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Pendapatan operasional lainnya (fee based income) per 31 Desember 2011 meningkat 12% menjadi Rp2.328 miliar dibanding Rp2.077 miliar pada periode yang sama tahun lalu, memberikan kontribusi sebesar 37% dari total pendapatan operasional BII. Total fee based income BII terutama berasal dari kenaikan fee dari transaksi perbankan korporasi, treasury, kartu kredit, trade finance, remittance dan jasa lainnya.
Total overhead cost meningkat 18% dari Rp3.699 miliar menjadi Rp4.353 miliar mencerminkan ekspansi jaringan BII yang agresif dan investasi di bidang human capital dan infrastruktur teknologi informasi (TI) sepanjang tahun. Per 31 Desember 2011, BII memiliki 351 kantor (termasuk Syariah dan cabang-cabang di luar negeri ) dan 1.152 ATM termasuk 65 CDM. BII berkomitmen untuk melanjutkan investasi pada jaringan dan infrastruktur untuk membangun fondasi yang kuat bagi pertumbuhan dan dapat memperoleh manfaat pada 2015 dan seterusnya.
Rasio Kecukupan Modal (CAR) dengan memperhitungkan risiko kredit, pasar dan operasional berada pada tingkat 11,83% per Desember 2011 dengan Tier 1 Capital sebesar Rp7,2 triliun dan Tier 2 Capital sebesar Rp2,2 triliun. Tier 2 Capital ini termasuk Obligasi Subordinasi Rp1,5 triliun yang diterbitkan April 2011. BII juga menerima dana sebesar Rp500 miliar dari Obligasi Subordinasi yang diterbitkan Desember 2011 yang belum dimasukkan dalam perhitungan Tier 2 capital per 31 Desember, tetapi persetujuan Bank Indonesia untuk memasukan Obligasi Subordinasi ke Tier 2 capital telah diterima oleh BII pada 31 Januari 2012.
Chairman Maybank dan Presiden Komisaris BII, Tan Sri Dato’ Megat Zaharuddin bin Megat Mohd Nor menambahkan, “Saya senang dengan kinerja yang membaik dan pertumbuhan bisnis yang meningkat pada 2011. Fundamental yang kokoh dipadukan dengan komitmen yang kuat dari Grup Maybank akan memberikan kontribusi positif bagi BII karena kita dapat meraih pangsa pasar yang lebih besar. Dalam mewujudkannya, kami ingin selalu berada di tengah komunitas di mana kami beroperasi, menyediakan produk dan layanan dengan nilai dan harga yang wajar sebagai bagian dari misi grup Maybank humanizing financial services across Asia.”
Catatan untuk Editor:
BII adalah salah satu bank terbesar di Indonesia dengan jaringan internasional yang memiliki 351 cabang termasuk lima Kantor Cabang Syariah dan 3 cabang di luar negeri, 1.152 ATM termasuk 65 CDM (Cash Deposit Machines) BII di seluruh Indonesia, dan juga sudah terkoneksi dengan lebih dari 20.000 ATM yang tergabung dalam Jaringan ATM PRIMA, ATM BERSAMA, ALTO, CIRRUS dan jaringan MEPS di Malaysia dan sekaligus terhubung dengan lebih dari 3.500 ATM Maybank di Malaysia dan Singapura serta memiliki kantor cabang luar negeri di Mauritius, Mumbai dan Cayman Islands. Dengan total simpanan nasabah sebesar Rp70,3 triliun dan aset sebesar Rp94,9 triliun per 31 Desember 2011, BII menyediakan serangkaian jasa keuangan melalui kantor cabang dan jaringan ATM, phone banking dan internet banking. BII telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BNII) dan aktif di sektor UKM/Komersial, Konsumer dan Korporasi.